KEPUSTAKAAN APOKRIP DAN APOKALIPTIK

ISTILAH APOKRIP
Kata benda Apokrip biasanya menunjuk kepada kitab-kitab yang terdapat dalam Vulgata bahasa Latin, tapi yang tidak terdapat dalam kitab Perjanjian Lama Ibrani. Kitab-kitab Apokrip itu hadir dalam Vulgata karena kitab-kitab itu - kecuali dua kitab Ezra - dimasukkan ke dalam terjemahan Perjanjian Lama bahasa Yunani, yaitu kitab Septuaginta (LXX), yang menjadi sumber kitab Vulgata itu. Pada umumnya dikatakan, keadaan itu menunjukkan bahwa orang Yahudi yang berbahasa Yunani dari Aleksandria mengakui kitab-kitab itu sebagai kanonik sepenuhnya, dan bahwa gereja Kristen purba, yang mengambil alih Kitab Suci Yunani itu, juga melakukan hal yang sama. Kitab-kitab yang dipersoalkan ini sebagian besar berasal dari Palestina, dan pada pokoknya ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aram. Kitab-kitab itu dikenal baik di Palestina maupun di Perantauan (Diaspora). Tapi kelihatannya kitab-kitab itu diberi taraf yang berbeda dibanding dengan kitab-kitab kanonik di segala tempat. Karena keadaan demikian itu, C.C. Torrey berpendapat bahwa istilah yang paling semartabat dengan istilah Apokrip ialah kitab-kitab di luar.
Sekalipun istilah ini mewujudkan istilah yang semartabat, namun istilah itu bukanlah arti harfiah dari kata apokruphos. Istilah Yunani ini berarti tersembunyi, dan diterapkan pada kitab-kitab yang dijauhkan dari mata umum, karena hanya diperbolehkan dibaca oleh golongan tertentu yang memiliki hak-hak istimewa untuk itu. Jadi istilah itu sama sekali bukan istilah yang menghinakan, melainkan menunjuk kepada nilai khas dari kitab-kitab yang dinamai secara demikian itu.
Agaknya istilah itu diterapkan kepada kitab-kitab hasil karya para ahli wahyu Yahudi, yang terlebih aktif di antara abad kedua sebelum Masehi dan abad pertama Masehi. Tulisan-tulisan ini diterbitkan dengan memakai nama pahlawan purba dan nabi-nabi Israel dan disembunyikan hingga zaman itu. Namun kitab-kitab ini tidak dimaksudkan untuk bacaan umum, melainkan untuk mereka yang layak membacanya. 2 Edras 14 menceritakan bagaimana Ezra mendiktekan kepada 5 orang penulis sebanyak 94 kitab, 20 di antaranya adalah kitab-kitab Perjanjian Lama (kitab Para Nabi Kecil dipandang sebagai satu kitab), dan 70 adalah untuk "yang bijaksana di antara orang-orang. Sebab di dalamnya adalah sumber pengertian, pancaran hikmat dan sungai pengetahuan" (Edras 14:46, 47). Kitab Edras ini tidak dimasukkan dalam Alkitab Bahasa Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa kitab-kitab itu bukan hanya dihargai sebagai di atas Perjanjian Lama, tapi bahwa kitab Apokrip di sini mencakup jauh lebih banyak kitab daripada kitab-kitab dalam yang telah dikumpulkan; kitab-kitab itu lebih mewujudkan kitab-kitab apokaliptis yang segolongan dengan 2 Edras itu sendiri.
Origenes (185-254), filsuf yang lahir di Mesir, memakai istilah apokrip untuk menunjuk kepada tulisan-tulisan apokaliptis, sedang ia menganggap kitab-kitab apokrip pengumpulan kita itu sebagai kitab-kitab kanonik. Jerome, dalam bukunya Prologus Galeatus tentang 1 dan 2 Samuel, adalah yang pertama kali memakai istilah itu bagi kitab-kitab yang sekarang pada umumnya disebut apokrip, yaitu kitab-kitab yang oleh penulis-penulis Kristen purba lainnya disebut ekklesiastik, atau cocok untuk dibaca di dalam gereja.
Kebenaran perkara ini nampaknya adalah demikian, bahwa kitab-kitab apokrip, dalam arti kitab yang di luar, pertama-tama dipandang sebagai menyusun segala kitab suci yang tidak termasuk di dalam Kanon; beberapa kitab lebih terkenal daripada yang lain, dan kitab-kitab yang lebih terkenal itu di dalam kitab Vulgata bahasa Latin. Tapi kitab-kitab yang disebut pseudepigrap (yaitu kitab-kitab yang diterbitkan dengan memakai seorang penulis purba) juga dianggap tinggi nilainya di tengah-tengah banyak golongan dan tidak seharusnya dipandang sebagai terpisah dari yang lain. Berdasarkan alasan-alasan itu hampir dapat dikatakan tepat untuk menganggap istilah apokrip itu cukup mencakupi semua kitab yang dimasukkan ke dalam ungkapan Apokrip dan Pseudepigrap. Torrey menerima pengertian ini dalam bukunya "The Apocryphal Literature", 1945.
KITAB-KITAB YANG DIPANDANG
Berikut ini adalah uraian singkat tentang sifat-sifat kitab-kitab Apokrip dan Pseudepigrap.
(1) Kitab-kitab Apokrip yang sebenarnya
1. Esdras, berisi sebagian besar bahan yang terdapat dalam kitab Ezra yang kanonik, tapi kitab ini memberi suatu pendahuluan kepadanya dengan penerbitan kembali 2 Tawarikh 35:1-36:21, serta menambahkannya berita tentang pembacaan Ezra akan hukum taurat yang diceritakan dalam Nehemia 8 (sedang nama Nehemia ditiadakan). Kitab ini adalah suatu ragam ayat Yunani dari bagian karya penulis Tawarikh tersebut - barangkali yang merawat penguraian LXX yang asli. Bagian itu memasukkan ke dalamnya cerita tentang ketiga pegawai istana, seorang di antaranya dikatakan bernama Zerubabel, pada pesta Darius - sumber asali dari: "Besarlah kebenaran itu, dan terkuat dari semuanya" (4:41).
2. Esdras adalah sebuah apokalips dari abad pertama Masehi yang dikemukakan seolah-olah diucapkan oleh Ezra. Dalam beberapa hal kitab ini adalah apokalip yang paling menyedihkan dari segala apokalip.
Tobit adalah cerita romantis, yang menceritakan kesalehan Tobit dengan menguburkan mayat-mayat yang tidak dipelihara; bagaimana perbuatan itu diberi pahala pada hari tuanya, dan bagaimana anaknya, yaitu Tobias, mendapatkan istri. Kitab ini agaknya ditulis pada akhir abad ketiga sebelum Masehi. Potongan-potongan dari kitab ini dalam bahasa Ibrani dan Aram telah ditemukan di Qumran.
Yudit adalah bagian reka-rekaan yang lain yang menaikkan martabat, yang menceritakan bagaimana Yudit membebaskan kotanya dari tentara Asyur. Kitab ini mungkin berasal dari zaman Makabe, kira-kira tahun 150 sebelum Masehi.
Tambahan-tambahan pada kitab Ester terdiri dari bahan-bahan yang dapat ditambahkan kepada kitab Ester yang kanonik, seperti umpamanya doa-doa dan keputusan-keputusan yang disebutkan selama cerita itu. Semua itu dimaksudkan untuk menambah unsur keagamaan pada kitab itu.
Kebijaksanaan Salomo sering dipandang sebagai hasil karya yang tertinggi pada zaman antar-perjanjian itu. Kitab ini adalah karya seorang Yahudi yang berbahasa Yunani di Aleksandria, sebuah contoh yang baik tentang penulisan kebijaksanaan Yahudi. Kitab ini teristimewa membicarakan pokok pembalasan sebagai hukuman dan ketololan penyembahan berhala. Waktu penulisannya diperkirakan bermacam-macam di antara 150 sebelum Masehi dan tahun 40 Masehi.
Kitab ekklesiastikus, yang sering disebut Kebijaksanaan Yesus bin Sirakh, adalah kitab yang sama dengan yang di muka, tapi yang mewujudkan sebuah karya golongan Saduki. Sekalipun tahun-tahun pemikiran dan pengalaman penulisnya sama, namun kitab ini terkurang sifat rohaninya daripada kitab yang disebutkan terlebih dahulu. Kitab ini diterbitkan kira-kira tahun 180 sebelum Masehi dalam bahasa Ibrani, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh cucu penulis kira-kira tahun 132 sebelum Masehi.
Barukh, bersama dengan Surat dari Nabi Yeremia, mewujudkan sebuah kitab hasil penyusunan, yang dalam pokoknya diarahkan untuk menentang penyembahan berhala. Yang pertama mungkin telah disusun pada abad ke-3 sebelum Masehi, yang ke-2 pada abad ke-2 sebelum Masehi. Mengenai tambahan-tambahan dalam kitab Daniel terdapat 3 kitab, semuanya dituliskan lebih kemudian daripada kitab Daniel yang asli.
Sejarah Susana menceritakan bagaimana pemuda Daniel membeberkan kebijaksanaannya dalam membela seorang wanita yang tidak bersalah, yang telah diputuskan untuk dihukum mati (itulah sebabnya ada peribahasa: "Daniel datang untuk mengadili").
Doa Azariah dan Nyanyian Tiga Pemuda disajikan sebagai telah diucapkan di dalam dapur api yang menyala-nyala. Bel dan Naga, adalah dua cerita yang terpisah, yang menceritakan bagaimana Daniel menghilangkan gengsi para imam Bel dan meledakkan gagasan bahwa naga itu adalah dewa dan juga meledakkan patung naga itu sendiri!
Doa Manasye adalah doa penyesalan yang diletakkan di mulut raja yang memiliki nama itu dalam Alkitab, didasarkan atas 2 Tawarikh 33:12 dan 19, dan mungkin ditulis pada abad ke-2 sebelum Masehi.
I Makabe[/B] adalah sumber pokok bagi pengetahuan tentang perang antara orang Yahudi, yang dipimpin oleh para anak Matatias, untuk menentang Antiokhus Epifanes dan para penggantinya. Penulisnya, yang barangkali menulis pada zaman Yohanes Hirkanus (135-104 sebelum Masehi) adalah sejarawan ulung, yang dapat menulis seobyektif mungkin, yang dapat dilakukan oleh seorang dari kaum Hasmonia.
2 Makabe membicarakan dari zaman yang diliputi oleh kitab pertama, terlebih-lebih dengan perbuatan-perbuatan kepahlawanan Yudas Makabe. Kitab ini lebih banyak diberi warna yang tinggi dibandingkan kitab pertama. Ditulis dengan pandangan Farisi dari awal perkembangannya, dengan penakanan pada harapan akan kebangkitan para martir di bawah pemerintahan Antiokhus. Kitab ini juga menampakkan adanya perhatian khusus terhadap Bait Allah.
(2) Kitab Pseudepigrap
Kitab Henokh (1 Henokh) adalah apokalips yang paling penting dari kelompok tulisan-tulisan ini. Kitab ini pasti hasil penyusunan, sekalipun masih dipersoalkan apakah kitab ini timbul dari satu zaman, atau apakah pengumpulan secara bertahap dari tradisi-tradisi yang dikatakan sebagai Henokh pada tahun 200 sebelum Masehi hingga pertengahan abad pertama Masehi. Sumbangannya yang paling penting adalah konsepnya tentang Mesias surgawi, Anak Manusia yang terdapat pada bagian yang disebut "Perumpamaan Henokh". Potongan-potongan dari segala bagian kitab ini, kecuali bab 37-71, telah ditemukan dalam bahasa Aram di antara naskah-naskah Qumran.
Kitab Yobel-yobel adalah suatu penulisan kembali Kejadian, maksudnya ialah untuk menunjukkan bahwa hukum Taurat itu telah berlaku sejak dari Eden. Kitab ini mengikuti tahun kalender matahari yang murni dan membagi sejarah ke dalam zaman-zaman yobel, yaitu 49 tahun (7 minggu tahunan; 1 minggu tahunan terdiri dari 7 tahun). Sering kitab ini dianggap ditulis kira-kira tahun 100 sebelum Masehi. Potongan-potongan kitab ini dalam bahasa Ibrani telah ditemukan di Qumran.
Wasiat Kedua Belas Bapak Leluhur, barangkali ditulis kira-kira pada waktu yang sama dengan kitab Yobel-yobel, dan merupakan pesan-pesan terakhir serta nubuat-nubuat masing-masing dari ke-12 anak Yakub, ketika mereka akan mati. Sedang naskah Yunani dari wasiat-wasiat ini mewakili suatu naskah Kristen, maka naskah yang lebih tua terhadap dua dari Wasiat-wasiat itu dalam bahasa Aram dan Ibrani telah ditemukan di Qumran.
Kitab-kitab Penujuman Sibilia adalah kitab-kitab Yahudi yang meniru gaya penujuman kafir Sibilia, untuk mempropagandakan gagasan Yahudi di antara orang bukan Yahudi. Kitab-kitab itu berasal dari abad kedua sebelum Masehi atau sesudahnya. Mi'raj Musa mungkin muncul pada zaman Yesus hidup di dunia. Kitab ini bermaksud memberi suatu sejarah dunia, seolah-olah sebuah nubuat, mulai dari Musa hingga akhirnya, yang memang adalah zaman penulis sendiri.
Kitab Rahasia Henokh (2 Henokh) mengandaikan kitab Henokh yang pertama dan dianggap muncul pada pertengahan abad pertama Masehi, sekalipun beberapa orang menganggapnya zaman yang lebih kemudian, bahkan beberapa abad kemudian. Kitab ini memberi uraian panjang lebar tentang ketujuh langit dan kerajaan Allah yang berada di dalam dunia selama seribu tahun.
Apokalip Barukh dari Siria (2 Barukh) hampir dapat dipastikan tergantung pada 2 Esdras dan mewujudkan kitab dari hasil penyusunan, yang menganggap dirinya berasal dari jurutulis Yeremia. Kitab ini ditulis pada akhir pertengahan abad pertama Masehi.
Apokalip Barukh dalam bahasa Yunani (3 Barukh) memiliki kesamaan dengan kitab yang mendahuluinya. Namun kitab ini tidak tergantung padanya, dan agak lebih kemudian terjadinya.
Mazmur-mazmur Salomo terdiri dari 18 mazmur, ditulis atas nama Salomo. Tapi mazmur-mazmur itu berasal dari tangan seorang Farisi atau seseorang yang memiliki pandangan yang sama. Mazmur-mazmur itu memiliki gaya yang sama dengan mazmur-mazmur kanonik dan ditulis pada bagian kedua abad pertama Masehi, sesudah Yudea ditaklukkan oleh bangsa Romawi. Mazmur-mazmur ini mengutuk kaum Hasmonia dan menanti-nantikan kedatangan Mesias dari keturunan Daud.
3 Makabe menceritakan usaha untuk membinasakan orang Yahudi pada zaman pemerintahan Ptolomeus Pilopator (222-205 sebelum Masehi) yang diakhiri dengan pembenaran yang memenangkan umat yang suci.
4 Makabe adalah pembicaraan filosofis yang mempergunakan cerita-cerita para martir Makabe guna melukiskan pendirian tentang keunggulan akal yang benar.
Surat Aristeas menguraikan keadaan-keadaan yang diperkirakan dari terjemahan kitab-kitab suci Ibrani ke dalam bahasa Yunani.
Kemartiran Yesaya, seperti ditunjukkan oleh judulnya, menceritakan hal penggergajian tubuh Yesaya menjadi dua. Sekalipun menurut Charles kitab ini ditulis pada abad pertama Masehi, namun ada alasan untuk mengira bahwa kitab yang menjadi sumber kitab ini, yaitu Mi'raj Yesaya seluruhnya adalah hasil karya Kristen dari zaman yang lebih kemudian. Tapi mungkin kitab ini memasukkan ke dalamnya sebuah cerita yang lebih tua yang berasal dari sumber Yahudi, yang menampakkan kesejenisan dengan kepustakaan Qumran.
Kitab-kitab Adam dan Hawa memberikan banyak berita tentang hidup leluhur manusia dan berasal dari abad pertama Masehi.
Pirqe Aboth, atau Ucapan-ucapan para Bapak, adalah kumpulan ucapan para nabi yang terhormat, yang meliputi abad ketiga sebelum Masehi hingga abad ketiga Masehi.
Cerita tentang Ahiqar adalah dongeng yang ditulis kira-kira abad kelima sebelum Masehi, yang menguraikan tentang kebijaksanaan orang suci ini.
Apokalips Abraham dan Wasiat Abraham keduanya berasal dari abad pertama Masehi, dan adalah hasil karya orang Yahudi dengan penyisipan-penyisipan Kristen.
Hidup para Nabi, judul itu menunjukkan apa isinya. Berasal dari zaman yang sama dengan kedua kitab yang mendahuluinya dan dengan cara yang sama diperkembangkan oleh orang Kristen. Wasiat Ayub kurang diperhatikan. Beberapa orang menduga kitab ini ditulis pada abad pertama sebelum Masehi.
Dokumen-dokumen Zadok, dua naskah Ibrani dari awal abad pertengahan, yang terdapat di sinagoge Kairo purba. Naskah-naskah ini tidak lengkap, tapi dalam batas-batas tertentu dapat dikatakan saling melengkapi. Sekarang dipandang termasuk kepustakaan yang berasal dari masyarakat Qumran. Potongan-potongan yang lain terdapat dalam gua di Qumran itu memberi kesan bahwa kitab-kitab ini berasal dari awal abad pertama sebelum Masehi.
Penemuan pada tahun 1947 dan pada tahun-tahun berikutnya terhadap sisa-sisa (kebanyakan potongan-potongan) dari 500 dokumen di sebelah gua di Qumran, sebelah barat laut Laut Mati, telah menambah secara besar-besaran pengumpulan kepustakaan Yahudi pada zaman yang dibicarakan di sini. Dokumen-dokumen ini tampaknya mewujudkan kepustakaan dari suatu masyarakat yang memisahkan diri, yang memiliki markas besarnya di kawasan itu untuk waktu dua abad, dari kira-kira tahun 130 sebelum Masehi hingga kira-kira tahun 70 Masehi. Masyarakat ini, yang menampakkan beberapa kesamaan dengan kaum Essen yang oleh para penulis abad pertama Masehi, disifatkan dengan suatu sisa mentalitas, yang memiliki keyakinan eskatologis dan suatu sistem penafsiran Alkitab yang berani dan kreatif. Sama sekali tidak dapat dikatakan bahwa semua naskah Qumran itu termasuk kategori apokrip dan apokaliptis. Ada naskah-naskah Alkitab dan tafsiran-tafsiran Alkitab, ada juga naskah-naskah yang dalamnya mengandung bahan-bahan yang menyimpan hidup kepercayaan dan ibadat masyarakat itu.
Kita telah menunjuk kepada beberapa tulisan yang telah dikenal sebelumnya, yang karena penemuan-penemuan ini, sekarang dapat dibaca dalam bahasa aslinya. Sebagai tambahan, ada bagian-bagian dari sebuah kelompok kitab-kitab "Daniel" yang tidak pernah masuk kitab Daniel baik yang kanonik maupun yang deuterokanonik, termasuk Doa Nabonidus, sebuah naskah Aram, yang menceritakan bagaimana raja terakhir Babilon menderita sekali selama 7 tahun "di kota Teman" dan bahwa ketika ia mengakui dosanya, mendapat pertolongan dari seorang tawanan Yahudi.
Kejadian Apokrifon, juga ditulis dalam bahasa Aram, berisi ungkapan-ungkapan khayalan tentang cerita-cerita bapak leluhur. Naskah-naskah yang lain memiliki judul-judul seperti Ucapan-ucapan Musa, Mazmur-mazmur Yosua, Wahyu Amram, Kitab Rahasia-rahasia, dan (tampaknya suatu kegemaran, ditinjau dari banyaknya salinan) Apokalip Yerusalem yang Baru. Jika semua ini telah diterbitkan dan dipelajari, semuanya diharapkan memberi tambahan yang besar sekali kepada pengertian tentang latar belakang Perjanjian Baru.
AJARAN KEPUSTAKAAN APOKRIP
(1) Ajaran tentang Allah
Dalam seluruh kepustakaan ini ada kecenderungan yang makin lama makin bertambah-tambah, untuk mengungkapkan gagasan tentang Allah dengan mengutamakan kedudukan-Nya yang transenden. Ada keseganan untuk menyebut nama ilahi, sehingga ada bermacam-macam pengalimatan yang dipakai untuk keperluan itu. Dalam 1 Makabe Allah tidak disebut terus secara langsung, melainkan biasanya disebut sebagai "Surga", umpamanya, "Kemenangan dalam perang tidak terletak dalam banyaknya pasukan, melainkan dari Surga datangnya kekuatan".
Kita boleh membandingkan ini dengan caranya penulis Yahudi, yaitu Matius yang dalam Injilnya terus-menerus memakai ungkapan "Kerajaan Surga" sebagai ganti "Kerajaan Allah", seperti terdapat dalam Injil-injil lain. Para nabi sering menunjuk kepada Allah sebagai "Yang Kudus, diberkatilah Dia", seperti contoh berikut, "Kamu harus memberikan laporan dan perhitungan yang benar di hadirat Raja segala raja dari para raja, Yang Kudus, terpujilah Dia". Berdasarkan alasan yang sama, ajaran tentang para malaikat banyak diperkembangkan pada zaman ini, guna menghindarkan keharusan bagi Allah untuk secara langsung campur tangan dalam persoalan-persoalan dunia ini.
Dalam Perjanjian Lama Tuhan adalah "Tokoh Perang" yang berperang bagi Israel. Dalam 2 Makabe para malaikatlah yang berperang untuk Israel, dan dalam Peraturan Perang yang terdapat di Qumran para malaikat suci hadir bersama balatentara [I]anak-anak terang.
Dalam 1 Makabe proses itu masih lebih lanjut ditekankan di dalam hal ini, bahwa bukan Allah dan bukan malaikat yang berperang, tapi kepintaran sebagai panglima yang baik yang dilakukan Yudaslah yang mendapat kemenangan. Gagasannya ialah bahwa tidak patut Allah secara aktif mencampuri perkara-perkara dari tata tertib dunia ini. Demikian juga hubungan secara langsung yang dimiliki Allah dengan penciptaan dalam Perjanjian Lama diganti dengan banyak sekali malaikat. Beberapa dari antaranya bertugas untuk mengawasi petir, yang lain mengawasi salju, hujan, awan, kegelapan, panas, dingin, dan sebagainya. Di lain pihak ajaran tentang roh-roh jahat sudah barang tentu menjadi penting juga, sekalipun di sini bekerja unsur-unsur yang lain.
Dengan pandangan demikian tentang Allah, maka gagasan tentang kedaulatan-Nya menjadi penting. Penyempurnaan bukan hanya telah diduga, melainkan telah diatur, bahkan hingga pada saatnya yang tepat. Pribadi-pribadi mendapat bagian dalam proses pentakdiran ini, tapi bukan dengan peniadaan tanggung jawab mereka. Penulis Mazmur Salomo percaya akan kedaulatan Allah yang sepenuhnya atas manusia, tapi ia juga berkata, "Perbuatan-perbuatan kita ditaklukkan kepada pemilihan dan kuasa kita sendiri untuk berbuat benar atau salah dalam pekerjaan tangan kita". Demikian juga transendensi Allah tidak meniadakan sama sekali hubungan-Nya dengan manusia. Ke-Bapak-an-Nya makin lama makin diakui. Ungkapan "Bapak-mu yang di surga" terdapat dalam Pirqe Aboth 5:23. "Tuhan akan bergemar dalam anak-anak-Nya dan akan digirangkan dalam yang dikasihi-Nya untuk selama-lamanya".
(2) Hukum Taurat
Hukum Taurat adalah kekal dan penting sekali bagi manusia. Dalam Kitab Yobel-yobel dikatakan, bahwa semua orang benar pada zaman dahulu, memelihara hukum Taurat seperti benar-benar halnya dengan para malaikat di surga. Sehingga pekerjaan Musa di Sinai itu bukan guna memperkenalkan hukum Taurat untuk yang pertama kalinya, melainkan untuk memberitakan lagi. Hukum Taurat itu adalah jumlah segala penyataan Allah. Bagi kebanyakan orang Yahudi hukum Taurat (torah) mencakupi tradisi lisan yang dianggap diturunkan dari Musa melalui para nabi dan tokoh-tokoh dari sinagoge agung.
Tradisi ini, yang dibukukan sejak kira-kira tahun 200 Masehi dan selanjutnya, mencakupi banyak sekali penerapan-penerapan hukum terhadap segala keadaan yang mungkin ada (misynah), bersama keterangan-keterangan lebih lanjut dari keterangan-keterangan ini (gemara), dan keduanya membentuk Talmud. Ada dua pengumpulan Talmud, yaitu pengumpulan Yerusalem dan pengumpulan Babilonia. Sikap Tuhan terhadap banyaknya tradisi ini telah terkenal, tapi bagi kebanyakan Yahudi ortodoks, pemenuhan tuntutan tradisi ini adalah soal hidup. Baik kepada rabi maupun para ahli apokalips, keduanya setuju dengan mengajarakan, bahwa satu-satunya harapan orang untuk mendapatkan hidup di akhirat adalah menaati peraturan-peraturan tradisi itu.
(3) Kebijaksanaan
Sifat kebijaksanaan seperti diuraikan dalam Amsal 8:22-31, pada zaman ini banyak sekali dipikirkan, terlebih-lebih ketika pemikiran Yunani dirasakan pengaruhnya dalam agama Yahudi. Ada penguraian yang panjang dan indah tentang kebijaksanaan ini dalam kitab Kebijaksanaan Salomo. Di situ dikatakan bahwa kebijaksanaan "adalah pernafasan kekuatan Allah dan pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa... karena merupakan pantulan (Yunani apaugasma) cahaya kekal dan cermin yang tak bernoda dari kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya". Baik dalam kitab Kebijaksanaan maupun dalam Ekklesiastikus terdapat amsal-amsal tentang kebijaksanaan yang praktis.
Sementara itu spekulasi makin bertambah di dalam konsepsi tentang "firman Allah". Kegiatannya dilukiskan secara mengherankan dalam Kebijaksanaan 18:15, 16, "Firman-Mu yang mahakuasa laksana pejuang garang melompat dari dalam surga, dari atas takhta kerajaan ke tengah tanah yang celaka. Bagaikan pedang tajam dibawanya perintah-Mu yang lurus, dan berdiri tegak diisinya semuanya dengan maut; ia sungguh menjamah langit sambil berdiri di bumi". Ayat-ayat ini ditujukan kepada penyembelihan anak-anak sulung di Mesir. Dalam kitab yang sama, 8:1, 2 firman itu disamakan dengan kebijaksanaan, "Allah nenek moyang... dengan firman-Mu telah Kau jadikan segala sesuatu, dan kebijaksanaan Kau bentuk manusia..."
Ajaran ini harus dibandingkan dengan pandangan bahwa kebijaksanaan dan hukum Taurat adalah satu dan sama. Pandangan demikian terus-menerus nampak dalam kitab-kitab ini, istimewa dalam Ekklesiastikus dan Pirqe Aboth. Umpamanya Bin Sirakh memberi sebuah uraian panjang tentang kebijaksanaan dalam "B. Sirakh 24", dan sesudah itu ia berkata, "semuanya itu ialah kitab Perjanjian dari Allah Yang Mahatinggi, Taurat yang diperintahkan Musa kepada kita...."
Demikian juga hukum Taurat dan firman adalah satu, seperti disebutkan dalam Pirqe Aboth, "dikasihilah Israel di dalam hal ini, bahwa kepada mereka diberikan alat yang dengannya dunia dijadikan...." Pentingnya perkembangan-perkembangan ini bagi orang yang mempelajari Perjanjian Baru adalah jelas; perkembangan-perkembangan ini menyajikan latar belakang yang harus dipakai bila mempelajari kata pendahuluan Injil yang keempat. Apa yang dituntut Yahudi bagi kebijaksanaan, firman, hukum Taurat, dituntut oleh Yohanes sebagai dipenuhi di dalam Yesus, Firman yang menjadi daging.
(4) Dosa
Asal dosa banyak dibicarakan pada zaman ini. Jawaban-jawaban yang diberikan atas pertanyaan itu berbeda tapi kebanyakan jawaban itu cenderung untuk terpusat kepada kejatuhan manusia ke dalam dosa. Kadang-kadang Hawalah yang banyak dipersalahkan, kadang-kadang Adam, kadang-kadang Iblis atau bahkan para malaikat yang jatuh.
Di pihak lain penulis 2 Barukh menentang pandangan seandainya kita semua menyalahkan nenek moyang kita, "Sekalipun Adamlah yang pertama berdosa dan telah mendatangkan maut atas semua orang sebelum waktunya, namun semua orang yang dilahirkan daripadanya, masing-masing dari antara mereka
itu telah mempersiapkan bagi jiwanya sendiri penyiksaan yang akan datang, dan masing-masing dari antara mereka telah memilih bagi dirinya sendiri kemuliaan yang akan datang.... Karena itu Adam bukanlah sebabnya kecuali hanya bagi jiwanya sendiri; setiap orang merupakan Adam bagi jiwanya sendiri."
Mengenai penebusan dosa, korban-korban adalah alat-alatnya yang pokok, seperti terdapat dalam Perjanjian Lama. Tapi amal-amal juga berdaya-guna bagi tujuan ini; Ek 3:3, "Barangsiapa menghormati Bapaknya berpaling dari dosa"; atau Tobit 12:9, "Memang sedekah melepaskan dari maut dan menghapuskan setiap dosa". Terhadap pandangan semacam inilah Paulus menentang keras sekali. Jasa-jasa orang suci juga dibela, dan sedikit-dikitnya dalam satu kitab mati martir seseorang yang setia mengakui Allah, juga dipandang sebagai membuat pelunasan bagi dosa.
(5) Etika
Dipandang bahwa tujuan utama manusia ialah memahami dan menaati hukum Taurat. Seperti dikatakan oleh seorang rabi, "Jika engkau melakukan banyak dari Taurat itu, janganlah menganggap hal itu sebagai kehormatanmu, sebab kamu dijadikan untuk melakukannya". Pada suatu zaman, ketika hukum Taurat dipandang sebagai jumlah dari pernyataan Allah, pandangan demikian tidak dapat dielakkan. Sayang pandangan itu membawa kepada ajaran keselamatan sebagai hasil dari amal-amal dengan cara yang kasar. Seperti umpamanya jika Aqiba menyamakan Allah dengan seorang pedagang yang memberi kredit kepada orang yang memelihara hukum Taurat, dan menuntut pembayaran yang pasti bagi utang-utang mereka, jika mereka gagal.
Namun, sebagai keseluruhan ada kemajuan tentang konsepsi etika dalam kepustakaan ini, jika dibandingkan dengan beberapa bagian dari Perjanjian Lama. Berkali-kali dalam Testaments of the Twelve Patriarchs diberikan nasehat, "Kasihilah Tuhan dan tetanggamu", secara ajaib mendahului ajaran Kristus. Kitab yang sama memiliki ajaran yang terpuji tentang pengampunan, seperti umpamanya Testament of Gad, "Saling kasih-mengasihilah seorang dengan yang lain dan dengan sungguh hati; dan jika seorang berdosa terhadap kamu, berkata-katalah secara damai dengan dia, dan jangan menyimpan tipu daya dalam jiwamu, dan jika ia menyesal dan mengakui kesalahannya, ampunilah dia. Tapi jika ia mengingkarinya, jangan murka terhadapnya, supaya, jangan sampai karena terkena bisa dari padamu ia bersumpah, sehingga dengan demikian kamu berdosa rangkap. Dan sekalipun ia menyangkal itu,namun memiliki rasa malu ditegur, berhentilah menegurnya. Sebab ia yang menyangkal dapat juga menyesal sehingga tidak akan berbuat salah terhadapmu lagi. Ya, ia dapat juga menghormatimu dan berdamai dengan kamu. Dan jika ia tidak memiliki malu dan bertahan di dalam perbuatannya yang salah, juga jika demikian ampunilah dia dengan ikhlas hati dan serahkan kepada Allah untuk membalasnya."
Bagian-bagian seperti ini berjalan begitu sejajar dengan beberapa perintah Tuhan, sehingga Charles seorang penafsir cenderung berpendapat, bahwa Yesus mengenal Testaments ini serta memakainya. Mungkin demikian, sekalipun kita tidak dapat memastikannya. Ucapan-ucapan kesusilaan cenderung tidak menjadi milik seorang saja dalam suasana di mana berkhotbah adalah santapan hidup, seperti halnya orang Yahudi pada zaman ini. Terlebih-lebih peristiwa bahwa kita memiliki Testaments ini di dalam suatu khazanah Kristen, hal itu memberi kemungkinan bahwa pengaruhnya, jika ada, dipakai dalam jurusan sebaliknya.
(6) Eskatologi
Pokok inilah yang perkembangannya paling menyolok pada zaman antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kemajuan yang terlebih-lebih patut diperhatikan adalah dalam konsepsi tentang kekekalan jiwa perseorangan, Kerajaan Allah dan Mesias.
(a) Kekekalan jiwa perseorangan
Sepanjang yang diketahui, orang Israel yang paling purba pun percaya, bahwa orang masih hidup sesudah mati. Tapi keadaan yang diharapkan akan dituju adalah suatu keadaan yang samar-samar, di mana orang tidak dapat mengharapkan akan adanya persekutuan dengan Allah. Mazmur 88 memberi keterangan dalam soal ini. Bagi pemazmur keadaan di atas sana adalah "negeri segala lupa", "Kegelapan", tempat di mana orang mati tidak memiliki persekutuan dengan Allah, sebab "mereka terputus dari kuasa-Mu". Suatu konsepsi tentang hidup di akhirat semacam ini, oleh beberapa orang dipandang sebagai hanya ketidakberadaan belaka. "Alihkanlah pandangan-Mu daripadaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!" (Mazmur 39:14).
Pengertian yang lebih jelas atas soal ini didapat, jika para suci Allah memikirkan lebih banyak persekutuan mereka dengan Allah dan menghubungkan pengalaman itu dengan kepastian akan kedatangan Kerajaan Allah. Demikianlah Ayub percaya, bahwa ia akan melihat pembelaan Allah, terhadap ketidaksalahannya sesudah ia mati, dan penulis Mazmur 139 percaya, bahwa dunia orang matipun tidak dapat mengecualikan Allah, "Jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau". Demikian juga penulis Mazmur 73 menanti-nantikan waktunya Allah melangsungkan persekutuan-Nya dengan dia dengan disambutnya dia ke dalam kemuliaan sesudah mati.
Tapi ajaran semacam itu adalah kekecualian, dan tidak diterima oleh semua orang. Bin Sirakh, seorang Sakudi, menulis, "Apakah kau hidup sepuluh, atau seratus atau seribu tahun di dunia orang mati tidak diperiksa hidupmu" (Ek 41:4). Pernyataan ini adalah penyangkalan yang jelas akan penghakiman Allah sesudah kematian.
Mengenai perkembangan ajaran orang Israel yang lebih rohani, diserahkan kepada Khasidim (para orang saleh), yaitu pada pelopor golongan Farisi. Ada kesejajaran yang menyolok dengan ajaran Yesus dalam soal ini yang disebutkan dalam 4 Makabe 7:18, 18, "Seberapa banyak orang yang dengan seluruh hatinya menjadikan kebenaran jadi pikirannya yang pertama, hanya merekalah yang dapat menguasai kelemahan daging, dengan percaya bahwa mereka tidak mati kepada Allah, seperti halnya dengan bapak leluhur kita Abraham dan Ishak dan Yakub tidak mati, tapi mereka hidup kepada Allah."
Tapi kita sampai kepada kutub yang sebaliknya dari pernyataan Bin Sirakh, dalam kata-kata rabi itu, yang berbunyi, "Dunia ini seperti halaman luar di depan dunia yang akan datang. Siapkanlah dirimu di halaman luar itu, supaya kamu boleh masuk ke dalam tempat pesta" (Pirqe Aboth 4:21). Demikianlah pandangan yang tetap dari kitab-kitab apokalips dan kitab-kitab inilah yang menyebarluaskan pandangan itu dalam agama Yahudi pada zaman Yesus.
(b) Kerajaan Allah
Kita dapat menemui tiga tingkatan tentang hal ini. Dalam Perjanjian Lama kerajaan itu dipandang duniawi dan di bumi kekal. Nubuat mesianis yang terkenal dalam Yesaya 11:1-9 menampakkan ciri ini secara khas. Para ahli apokalips pertama banyak membicarakan bagian-bagian alkitab seperti ini serta menghasilkan beberapa gambaran yang menarik tentang zaman itu. 1 Henokh 10:17 dan ayat berikutnya berkata, bahwa orang benar akan hidup hingga usia tua yang baik serta mendapatkan ribuan anak. Benih mereka akan menghasilkan seribu kali lipat; tiap takaran zaitun akan menghasilkan sepuluh perasan minyak, dan sebagainya. Inilah sumber uraian Papias yang terkenal dengan kerajaan seribu tahun.
Yesaya 65:17-22 berbicara tentang langit dan bumi yang diperbaharui, tapi tidaklah jelas, sampai dimana hal ini dimaksudkan untuk diterapkan di bidang rohani dan jasmani. Tapi beberapa apokalip tertentu dari abad-abad pertama sebelum Masehi dan sesudahnya mengemukakan pandangan bahwa kerajaan mesianis, sekalipun akan didirikan di bumi, namun akan bersifat sementara serta akan memberi tempat bagi suatu Kerajaan Surga yang kekal.
Dalam 2 Henokh hal ini dihubungkan dengan pengertian bahwa sejarah dunia akan berlangsung untuk 7000 tahun, sedang 1000 tahun yang terakhir adalah kerajaan 1000 tahun. Sesudah itu kerajaan yang kekal akan mulai dengan suatu ciptaan baru. Bagi penulis ini kerajaan sementara itu terang penting sekali. Dalam dalam 2 Esdras hal itu kurang mendapat perhatian, karena pesimisme penulis mengenai dunia ini. Kerajaan dibatasi hingga 400 tahun lamanya. Pada akhir tahap ini Mesias dan semua yang hidup akan mati.
Mengingat perkembangan terakhir, tidaklah mengherankan bahwa beberapa ahli apokalip meniadakan sama sekali gagasan tentang suatu kerajaan mesianis yang bersifat sementara, dan hanya mengharapkan kerajaan yang kekal di langit yang baru. Demikianlah harapan dari satu garis tradisi, yang diikuti oleh penulis 2 Barukh. Jelas ia merasa bahwa dunia ini tidak layak bagi Kerajaan Allah. "Apa saja yang ada sekarang bukan apa-apa, tetapi apa yang akan ada itulah yang besar sekali. Sebab segala sesuatuyang dapat rusak akan berlalu, dan segala sesuatu yang mati akan pergi dan segala yang termasuk masa kini akan dilupakan, tidak akan ada ingatan apapun terhadap masa kini, yang dinodai oleh kejahatan-kejahatan."
Pandangan apapun yang diambil terhadap tabiat kerajaan itu, biasanya kedatangan digambarkan sebagai tiba-tiba dan tidak diharapkan seperti impian Nebukadnezar dalam Daniel. Tapi dalam beberapa kitab didapati gagasan bahwa kerajaan itu akan mencapai kesempurnaannya hanya beberapa tahap, seperti terdapat dalam Yobel-yobel 33 dan 2 Barukh 73-74. Dalam kitab pertama kerajaan itu digambarkan datang dalam kesempurnaan yang terus bertambah, yaitu jika hukum Taurat dipelajari dan ditaati dengan makin penuh.
Demikian juga semua ahli apokalip mengharapkan bahwa kerajaan itu akan 'segera' datang. Mereka hidup pada akhir zaman itu. Namun dalam beberapa kitab dinyatakan bahwa hari besar itu akan lebih dipercepat lagi dengan pertobatan. "Pada hari Israel bertobat, kerajaan musuh akan dibawa kepada akhirnya." (Testament of Daniel 6:4). Oleh karena itu dalam Mi'raj Musa 1:18 hari terakhir itu disebut "hari pertobatan dalam perkunjungan yang akan diadakan Tuhan dalam penyempurnaan akhir zaman."
Segi yang bermacam-macam dari kerajaan Allah ini tidak boleh tidak mempengaruhi pandangan para penganutnya terhadap kekekalan jiwa. Telah lama diakui, bahwa karena maksud Allah adalah pembentukan kerajaan, maka maksud itu meliputi bukan hanya generasi dari zaman akhir, melainkan segala yang bertabiat ilahi. Karenanya ajaran tentang kebangkitan lebih jelas lagi dijadikan pusat perhatian. Di dalam Perjanjian Lama ajaran itu tampil dalam Yesaya 26:19 dan Daniel 12:3. Tapi sekarang timbul pelunakan. Jika kebangkitan yang diharapkan dianggap berhubungan dengan suatu kerajaan yang penuh berkat-berkat duniawi, sudah barang tentu tubuh kebangkitan memiliki tabiat yang sama dengan tubuh yang sekarang ini.
Demikianlah dalam Kitab-kitab Penujuman Sibilia 3:179-192 disebutkan "Allah akan membentuk lagi tulang-tulang dan debu-debu manusia dan akan membangkitkan orang mati seperti kebangkitan mereka sebelumnya". Maka kebangkitan yang semacam itu terjadi pada awal kerajaan. Tetapi jika kerajaan sementara itu dinantikan, kebangkitan ditunda hingga pada akhir kerajaan. Demikianlah keadaannya dalam Kitab Rahasia Henokh, dimana Allah memberikan kepada Adam, bahwa Ia akan mengambil Adam, dari bumi "pada kedatangan-Ku yang kedua", artinya: pada akhir 7000 tahun dari sejarah dunia itu. Penulis ini agaknya menggambarkan kebangkitan itu sebagai bersifat rohani dan tidak jasmani semata-mata.
Demikian kita baca, "Tuhan berfirman kepada Mikhael, 'Pergilah dan ambil Henokh keluar dari pakaian duniawinya, dan urapilah dia dengan minyak urapan-Ku yang harum, dan kenakanlah kepadanya pakaian kemuliaan-Ku." Penulis-penulis semacam penulis Kebijaksanaan Salomo, yang tidak mengharapkan perealisasian kerajaan yang secara duniawi, secara kebetulan mengharapkan kebangkitan yang akan terjadi segera sesudah kematian. Penulis Kebijaksanaan itu sungguh-sungguh menampakkan pengaruh konsepsi Yunani tentang "ketidakdapatan mati" - paling sedikit bagi para orang benar. Tapi gagasan ini tidak tampak sebagai berasal dari bumi agama Yahudi Palestina, dan gagasan itu pada umumnya tidak diterima.
(c) Mesias
Mesias tidak disebutkan dalam beberapa kitab para nabi Perjanjian Lama. Demikian juga Ia tidak terdapat dalam beberapa kitab apokrip. Karena itu R.H. Charles dalam bukunya "Religious Development between the Old and New Testaments" menyimpulkan, "Dalam kitab nabi-nabi dan apokalip Yahudi itu Mesias bukanlah unsur yang organis dari kerajaan". Sekalipun anggapan bahwa karena seorang penulis tidak menyebut Mesias, hal itu dengan sendirinya mengandung gagasan tentang penolakannya akan pengharapan terhadap Mesias adalah tidak benar, namun pernyataan Charles ini pada umumnya berlaku. Perbedaan besar antara eskatologi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terletak pada pentingnya peranan Mesias; dalam Perjanjian Baru eskatologi seluruhnya dikaitkan dengan Pribadi dan pekerjaan Kristus.
Dalam bagian-bagian Perjanjian Lama di mana Mesias memiliki kedudukan paling utama dalam kerajaan, harus diperhatikan, bahwa biasanya Ia mulai memegang peranan sesudah kerajaan didirikan; Ia sendiri tidak mendasarinya. Mazmur 110:1 merangkumkan kedudukan-Nya, "Firman TUHAN kepada tuanku: 'Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Ku-buat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu'". Dengan demikian juga dalam kebanyakan kitab apokalib Mesias tidak memulai pekerjaan-Nya sampai kerajaan itu didasari. Salah satu dari kekecualian yang paling penting ialah Similitudes of Enoch, yang akan segera dibicarakan.
Lagi, dalam kitab-kitab apokalip. Mesias itu hampir senantiasa datang dari benih Daud, seperti terdapat dalam Perjanjian Lama. Tapi kita menghadapi suatu konsepsi yang penuh teka-teki dalam Testaments of the Twelve Patriarchs. Sebab di situ disebutkan bahwa keselamatan timbul dari Lewi dan Yehuda, bukan dari Yehuda saja. Kebanyakan penafsir bertahan bahwa dalam kitab ini Mesias dipandang keluar dari Lewi. Hal ini dapat dipastikan dalam Testament of Reuben 6:7-12. Juga sama jelasnya bahwa dalam Testament of Judah 22 dan 24, Mesias dinyatakan timbul dari Yehuda. Terlebih-lebih pandangan yang biasa dari "Wasiat-wasiat" itu ialah bahwa keselamatan harus keluar dari Lewi dan Yehuda, bukan dari satu suku saja.
Satu-satunya keterangan yang memuaskan agaknya ialah, bahwa penulis ini menanti-nantikan dua Mesias, bukan satu. Dasar dari pandangan yang mengejutkan semacam itu, bukan melulu karena perbuatan-perbuatan kepahlawanan para pemimpin Makabe yang berasal dari suku Lewi, melainkan karena kepentingan yang dikaitkan penulis ini kepada imamat. Yehuda dijadikan berkata, "Kepadaku Tuhan telah memberikan kerajaan dan kepadanya (Lewi) imamat, dan ia menempatkan kerjaan di bawah imamat.... Seperti halnya langit lebih tinggi daripada bumi, demikianlah imamat Allah lebih tinggi daripada kerajaan duniawi..." Pentingnya perkembangan ini, yang terjadi begitu berdekatan dengan kelahiran Yesus terletak pada persiapan yang dimiliki oleh perkembangan itu di antara orang Yahudi bagi pemberitaan tentang seorang Mesias, yang karya agung-Nya adalah penebusan.
Jika Mesias muncul dalam naskah-naskah Qumran dalam bentuk tunggal, yang dimaksud adalah Mesias keturunan Daud. Tapi kadang-kadang dua Mesias disebut, seorang dari kaum imam dan yang seorang lagi dari kaum awam ("Mesias dari Harun dan Israel"). Mesias dari kaum imam itu akan menjadi kepala negara pada zaman baru, dan Mesias dari kaum awam itu akan berada di bawahnya. Halnya sama seperti "raja" dari wangsa Daud di kawasan yang baru dalam Yehezkiel berada di bawah imamat. Bersamaan dengan dua tokoh yang diurapi ini, masyarakat Qumran menantikan nabi yang sama seperti Musa, akan muncul pada zaman akhir.
Suatu penyimpangan besar yang lain dari gambaran yang tradisional tentang Mesias, adalah gambaran yang diberikan dalam Similitudes of Enoch. Di sini Mesias bukan lagi hanya tokoh manusia. Ia adalah tokoh transenden, yang ditinggikan melebihi segala makhluk. Ia akan dinyatakan pada zaman akhir, bukan hanya untuk memerintah bagi Allah, melainkan untuk mendirikan kerajaan. Ia dihubungkan secara erat, jika tidak disamakan, dengan persekutuan para orang benar dan umat Allah yang terpilih dan diindividualisir dalam seseorang yang benar secara luar biasa --dalam 1 Henokh 71:14 ia diindividualisir dalam diri Henokh, yang dipanggil ilahi untuk menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik pada penentuan terakhir.
Menurut Charles, di sini untuk pertama kali gelar-gelar Kristus, Yang Benar, Yang Terpilih dan Anak Manusia diterapkan kepada Juruselamat yang akan datang. Semua gelar itu muncul dalam Perjanjian Baru. Banyak sarana yang dipakai Allah untuk mempersiapkan jalan Tuhan dan untuk mendatangkan masa genap bagi kedatangan Anak-Nya dari surga, seperti diberitakan Alkitab. Dalam arti ini kitab-kitab ini dengan penunjukannya kepada Juruselamat yang akan datang, adalah penting. Sebab kitab-kitab itu adalah bagian dari keadaan historis yang umum, yang diatur Allah bagi tujuan penyelamatan-Nya. [ðððð]
Sumber: The New Bible Commentary - Revised, Inter-Varsity Press: London, © 1976

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda